Harga Pertalite Eceran Melonjak, Pengendara Terpaksa Merogoh Kocek Lebih Dalam

Daerah 12 Oct 2026 10:43 • 2 min read • 13 views • By Redaksi

Share berita ini

Harga Pertalite Eceran Melonjak, Pengendara Terpaksa Merogoh Kocek Lebih Dalam
Foto ilustrasi (Istimewah) PASANGKAYU – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di kios pengecer mulai dikeluhkan sejumlah pengendara. Harga eceran yang sebelumn...

PASANGKAYU – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di kios pengecer mulai dikeluhkan sejumlah pengendara. Harga eceran yang sebelumnya berkisar Rp12.000 hingga Rp20.000 per botol, kini disebut mencapai Rp15.000 hingga Rp25.000, bergantung pada ukuran botol yang dijual.

Peningkatan tersebut menambah beban pengeluaran masyarakat, khususnya pengendara sepeda motor yang menggunakan Pertalite untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Bagi sebagian warga, membeli BBM di kios pengecer menjadi pilihan ketika pengisian di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tidak mudah dijangkau.

Informasi kenaikan harga ini terungkap setelah seorang pengendara sepeda motor menyampaikan keluhannya kepada media ini. Ia menyoroti perubahan harga yang dinilai cukup memberatkan, terutama ketika kebutuhan BBM tidak bisa ditunda.

Perbedaan harga tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai faktor yang mendorong kenaikan harga Pertalite di tingkat pengecer. Apalagi BBM merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat yang setiap hari menggunakan kendaraan untuk bekerja, berdagang, bertani, maupun menjalankan aktivitas lainnya.

Saat dikonfirmasi media ini, salah seorang pedagang BBM eceran di wilayah Ako Pasangkayu menjelaskan bahwa harga jual yang diterapkannya menyesuaikan biaya untuk memperoleh pasokan.

Menurut pedagang tersebut, Pertalite yang dijualnya diantarkan oleh seseorang menggunakan mobil. Ia mengaku tidak bisa melakukan pengisian BBM di SPBU menggunakan jeriken, sehingga harus mengandalkan pasokan dari pihak lain.

Kondisi itu, menurut penjelasannya, turut mempengaruhi harga jual Pertalite di kiosnya. Namun, keterangan tersebut masih merupakan penjelasan dari pedagang yang bersangkutan dan belum disertai rincian biaya pengadaan maupun distribusi yang dapat mengukur besaran pengaruhnya terhadap kenaikan harga.

Di sisi lain, keluhan pengendara menunjukkan bahwa perubahan harga di tingkat pengecer langsung dirasakan masyarakat. Ketika harga per botol meningkat, konsumen harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk memperoleh jumlah BBM yang belum tentu sebanding dengan kebutuhan perjalanan mereka.

Persoalan ini juga menyoroti pentingnya kejelasan rantai pasok BBM di tingkat pengecer. Biaya transportasi dan distribusi memang dapat mempengaruhi harga penjualan, tetapi mekanisme pasokan, asal BBM, serta dasar penetapan harga tetap perlu dijelaskan secara transparan.

Masyarakat berharap ketersediaan Pertalite dan keterjangkauan harga tetap menjadi perhatian, sehingga kebutuhan BBM tidak lagi membebani pengeluaran warga. Sebab, ketika harga di tingkat pengecer terus berubah, konsumen menjadi pihak yang langsung menanggung dampaknya.

***

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Pilar Negeri